Kebumen Mengopi, Komunitas Ini Kembangkan Kopi Lokal Jadi Produk Unggulan

TrubusPreneur
By Karmin Winarta | Followers 0
17 Jan 2019   13:30

Komentar
Kebumen Mengopi, Komunitas Ini Kembangkan Kopi Lokal Jadi Produk Unggulan

Roemah Kopi (Foto : Karmin.Winarta)

Trubus.id -- Minum kopi kini tak hanya menjadi gaya hidup kaum urban di kota-kota besar. Kebiasaan nongkrong di kafe atau warung kopi kini juga marak di kota-kota kecil di banyak tempat di Indonesia. Misalnya di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.

Jika Trubus Mania berkunjung ke kota ini, banyak kafe, kedai atau warung kopi yang bisa dijadikan tempat nongkrong yang menyediakan kopi lokal.

Salah satu kafe yang cukup populer di Gombong, Kebumen adalah Roemah Kopi. Febridiansyah, dari Roemah Kopi mengatakan, ia bersama teman-temannyalah yang merupakan inisiator yang membentuk Komunitas Kebumen Mengopi beberapa tahun lalu. Dan Roemah Kopi menjadi salah satu pionir saat itu.

Pada waktu itu Roemah Kopi menjual kopi Gayo, Wamena, Sidikalang, Toraja dan daerah-daerah lain di Indonesia. Namu menu yang mereka sajikan diprotes oleh salah satu pengunjung dari Jakarta.

"Iya ada pengunjung yang ingin mencoba kopi lokal. Jauh-jauh dari Jakarta ketemunya kopi dari daerah-daerah lain juga, apakah Kebumen tak punya kopi lokal, " kata Febri kepada Trubus.id Rabu (16/1).

Febri bersama temannya kemudian langsung mencari tahu keberadaan kopi lokal. Dari data yang ia dapat dari Perhutani, ternyata lahan yang telah ditanami kopi di wilayah itu ada sekitar 70 hektare.

"Kopinya ada, hanya saja para petani malas merawat tanaman tersebut karena harganya yang dianggap tidak layak, " kata Febri.

Saat itu harga kopi green bean hanya dihargai 15 ribu rupiah saja. Ia kemudian mencari cara bagaimana agar semangat petani kopi meningkat dan bisa merubah kopi menjadi produk primadona di daerahnya.

Ia lalu melakukan edukasi kepada para petani kopi. Berkolaborasi dengan Perhutani setempat, Komunitas Kebumen Mengopi menggalakkan penanaman kopi dan mengedukasi terutama treatment pascapanen. Karena menurutnya, para petani kopi masih melakukan treatmen kopi pasca panen secara salah.

Misalnya menjemur kopi di tanah atau mencampur hasil panen yang dipetik hari ini dan besok.

Hasil panen kopi mereka sebagian dibeli oleh para pemilik kafe atau warung kopi di seluruh kota Kebumen. Menurut Febri, saat ini anggota Kebumen Mengopi telah mencapai 40 kedai kopi.

Komunitas ini mempunyai tagline yang unik.  'Komunitas sing konsisten ngopeni kopi kebumen', artinya komunitas yang secara konsisten merawat kopi lokal. Tujuannya agar perkembangan bisnis kopi di wilayah ini semakin meningkat. Siapapun boleh boleh menjadi anggotanya. [KW]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: