Misi Besar ERCB Terhadap Penyintas Anak-anak Sigi dan Donggala

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
17 Nov 2018   16:00

Komentar
Misi Besar ERCB Terhadap Penyintas Anak-anak Sigi dan Donggala

Pelayanan anak di kawasan terpapar tsunami Desa Loly Saluran (Foto : Dok YPI-ERCB)

Trubus.id -- Dalam rangka melindungi hak anak pascabencana, tim Emergency Response Capacity Building (ERCB) melakukan tindakan untuk perlindungan terhadap anak. Salah satunya adalah memberikan waktu luang dan kegiatan budaya dengan membentuk wilayah bermain anak yang aman dan nyaman atau Child Friendly Spaces (CFS). 

Sebagai pelaksana tim di lapangan, Marjoko dari Yayasan Pusaka Indonesia (Medan) yang tergabung dalam konsorsium ERCB mengungkapkan, paling rentan ketika terjadi bencana adalah anak-anak, kelompok perempuan, lansia dan difable. Menurutnya, pengalaman traumatis akibat menyaksikan kejadian mengerikan dapat menyebabkan stress dan trauma yang dapat mengganggu perkembangan fisik, sosial dan mental anak.

Namun, Marjoko menekankan peran yang dilakukan berbeda dengan distribusi barang, dirinya justru akan melakukan pemberdayaan dengan melibatkan partisipasi warga. 

Baca Lainnya : Tim ERCB Salurkan 100 Ton Beras di Palu, Sigi dan Donggala

“Jadi yang inti adalah bagaimana meningkatkan peran serta masyarakat dalam perlindungan anak,” ujarnya. 

Menurutnya, salah satu bentuk partisipasi itu adalah masyarakat secara aktif dan langsung berperan serta dalam proses. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya agar bangkit dari keterpurukan juga bagian dari tanggung jawab mereka, bukan menjadi tanggung jawab orang lain.

Kegiatan anak-anak sedang berkreasi di Desa Loly Saluran (Foto: Dok YPI-ERCB)

“Selain relawan lokal, yang kedua kita juga mendorong masyarakat untuk menyediakan (lokasi), kan awalnya kita menyediakan tenda, tapi kalau kita datang menyediakan fasilitas sepertinya masyarakat tidak berperan atau perannya sangat kecil. Makannya kita minta kalian punya apa, kami punya apa, kalian buat apa, kami buat apa. Jadi disinilah kita mau menunjukkan partisipasi masyarakat itu,” jelasnya.  

Marjoko menilai, warga terdampak bukanlah sebagai korban, namun sebagai penyintas yang masih mampu memberdayakan dirinya. Untuk itu, peran serta warga terhadap pendampingan anak sangat dibutuhkan terutama yang selalu berinteraksi dengan anak.

“Yang kita harapkan (pendamping) dia yang selalu berinteraksi dengan anak dan paham karena tidak semua orang bisa melakukanya. Orang harus memahami kejiwaan anak, jadi meletakkan pikiran anak ke dirinya sehingga dia paham,” ujarnya. 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: