Bertani di Lahan Perkotaan, Mantan Sopir Angkot Ini Hasilkan Ratusan Juta per Hari

TrubusPreneur
By Syahroni | Followers 2
07 Nov 2018   20:45

Komentar
Bertani di Lahan Perkotaan, Mantan Sopir Angkot Ini Hasilkan Ratusan Juta per Hari

Bagas menenrima kunjungan Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi, Rabu (7/11). (Foto : Doc/ Kementan RI)

Trubus.id -- Menjadi petani tidak harus tinggal di daerah pedesaan. Hal itu sudah dibuktikan Bagas Suratman. Buktinya, dengan memanfaatkan lahan pertanian di metropolitan, petani muda berusia 37 tahun ini bisa mendapat penghasilan hingga ratusan juta per harinya.

Bagas Suratman (37) sendiri mengungkapkan, dia mulai bertani sejak tahun 2004 silam di lahan seluas 26 hektare di Kampung Rawa Lini, Teluk Naga, Tangerang, Banten. Di lahan yang terletak 2 kilometer dari Bandara  Soekarno Hatta (Soetta) ini ditanami dengan 30 jenis komoditas sayuran dan melon.

Bagas cerita, sebelumnya dia bekerja sebagai supir angkutan umum tidak tetap. Kemudian ia mencoba-coba terjun menjadi petani. Lambat laun usahanya menanam sayuran pun menghasilkan pendapatan yang cukup besar.

Bagas dan Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi memanen melon. (Foto: Doc/ Kementan RI)

“Sekarang pendapatan per harinya mencapai Rp 100 juta. Pendapatan ini diperoleh dari empat supermarket seperti superindo, Alfamidi, Carrefour sebagai mitra usahanya. Sayuran juga dipasok ke berbagai pasat tradisional di Jabodetabek,” ungkapnya, Rabu (7/11).

Bagas menjelaskan, sayuran yang dibudidayakan di antaranya adalah daun pepaya, singkong, kangkung, bayam, caisim dan katuk. Setidaknya ada 30 item sayur lebih di lahan 26 hektare yang disewanya seharga Rp10 juta per tahun dari sebuah perusahaan yang belum memanfaatkan lahannya itu.

"Di sini kami bermitra dengan 40 orang petani yang mengolah lahan 26 hektare. Kami panen setiap harinya untuk menyuplai empat supermarket. Untuk melon, harganya Rp 10 ribu per kg. Pemasaran tidak masalah, biaya produksi Rp 150 juta per hektare. Produksi 25 ton per hektare Minimal keuntungan Rp 50 juta sampai Rp 100 juta per hektare per musim. Masa tanam selama 70 hari,” tambahnya.

Adapun harga sayuran per ikat cukup kompetitif. Misalnya untuk caisim Rp 2.200 per ikat, kenikir Rp 2.500 per ikta, daun singkong Rp 1.500 per ikta, daun pepaya Rp 2.500 per ikat, daun bayam Rp 2.200, daun katuk Rp 3.000 per ikat.

"Untuk memenuhi pasokan, saya satu tahun libur hanya sehari, pas malam takbiran,” sebut Bagas.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: