Pemerintah Bangun Jaringan Pasarkan Produk Petani Kopi Organik Malang

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
01 Nov 2018   19:15

Komentar
Pemerintah Bangun Jaringan Pasarkan Produk Petani Kopi Organik Malang

Ilustrasi petani kopi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Petani organik asal Kabupaten Malang, Ponirin (63 tahun) mengaku saat ini merasa lebih tenang karena hasil produksi perkebunan kopinya sudah ada yang menampung. Berkat bantuan pemerintah, Ponirin bersama kelompok petani kopinya sudah dibeli perusahan penjual kopi di Bogor, Jawa Barat. Pada Rabu (1/11), sebanyak empat ton kopi organik kelompoknya dikirim oleh dua unit truk ke Bogor dari Malang.

"Kalau gini kan enak. Petani semangat. Kita diminta memproduksi kopi organik tapi ada semacam jaminan hasil produksinya ada yang menampung,” ujar Ponirin di sela acara ‘Launching Penjualan Kopi Petani Desa Organik’ di Politeknik Pembangunan Pertanian Malang, Rabu (1/11).

Dikatakan Ponirin, sebelum ada bantuan pemerintah dirinya bersama petani kopi lainnya mengalami kesulitan saat memasarkan hasil produknya. 

Baca Lainnya : Belum Dilirik, Nyatanya Koperasi Bisa Hindarkan Petani Kopi dari Tengkulak

Kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya, Adi Praptomo mengungkapkan, melalui program launching penjualan kopi petani ini, pihaknya dapat meyakinkan para petani bahwa pemerintah punya komitmen membantu pemasaran perkebunan organik. Sehingga, petani lebih semangat dalam kegiatan perkebunan organiknya.

Untuk pemasaran dan penjualan kopi, pemerintah telah bermitra dengan PT Okuori Bumi Nusantara. Di mana, perusahaan itu akan membeli kopi-kopi organik dari sejumlah daerah di Indonesia seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatra Selatan, Sulawesi Utara, dan Lampung.

“Rencana pembelian dilakukan secara bertahap setiap bulannya dengan total pembelian hingga Januari 2019 sebanyak 105 ton. Tahap penjualan ini masih di dalam negeri,” ujar Adi.

Baca Lainnya : Ingin Kembali Berjaya, Pemkab Jember Bina 214 Ribu Petani Kopi dan Latih Barista

Langkah selanjutnya, hasil perkebunan ini akan diusahakan mendapat sertifikat organik agar dapat menembus pasar internasional. Dikatakannya, pada 2019 ada beberapa negara yang sudah berminat dengan kopi organik, seperti Filipina, Thailand, Italia, Arab Saudi, dan Swiss dengan potensi permintaan sebanyak 153,6 ton.

“Namun, kelima negara tersebut meminta persyaratan produk yang ketat. Yaitu, hasil kopi sudah mendapatkan sertifikat organik,” ujar Adi.

Direktur Perlindungan Perkebunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan, Dudi Gunadi mengatakan dalam sistem perdagangan apalgi untuk menembus pasar ekspor, produk organik memang harus mendapatkan sertifikasi yang dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi organik. 

Saat ini, persyaratan itu tengah diupayakan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan agar bisa dimiliki oleh para petani. Salah satunya adalah dengan memberikan pendampingan kepada para petani organik.

Baca Lainnya : Pengamat Pertanian Nilai Pengembangan SDM Petani Kopi Flores Belum Optimal

“Supaya pada tahun ini juga produk organik bisa mendapatkan sertifikasi organiknya dan selanjutnya bisa menjual produk dengan label organik,” ujar Dudi.

Menurutnya, produk dengan label organik ini tentu saja berbeda. Karena, akan berdampak pada perbedaan harga yang lebih tinggi dan menjanjikan bagi para petani. 

Dikatakan Didi, pertanian organik tinggal mengandalkan input yang dihasilkan dari sistem itu sendiri. Seperti limbah-limbah kegiatan pertanian yang dikembalikan kepada tanah dan tananaman untuk menjadi pupuk.

“Ini harapan dari pemerintah agar mendorong teknologi yang bisa dilakukan oleh para petani agar tidak tergantung dari input yang tidak dikuasainya seperti pupuk kimia, pestisida,” ujar Dudi.

Menurutnya, pupuk bisa dibuat dari limbah kotoran dalam bentuk kompos. Kemudian, urine juga bisa menjadi stimulan bahkan bisa menjadi pestisida hayati.

“Limbah dari ternak bisa menjadi pupuk dan menghasilkan biogas untuk memenuhi kebutuhan energinya sendiri. Jadi ini sangat ramah dengan lingkungan,” ujar Dudi.

Sementara itu, Direktur Utama PT Okuori Bumi Nusantara Anton Sulis mengungkapkan, pihaknya tertarik membeli produk-produk pertanian organik karena produknya memiliki banyak keuntungan. Seperti, keamanan pangan, bebas pestisida, yang dapat menguntungkan konsumen. Selain itu, keunggulan lainnya yang penting adalah dapat mendorong petani untuk melakukan sistem pertanian berkelanjutan, sehingga tidak mengeksploitasi alam.

Baca Lainnya : Pemerintah Sleman Terus Upayakan Pendampingan Petani Kopi Merapi

Dikatakan Anton, hasil perkebunan organik juga sedang menjadi tren di dunia. Di antaranya, di Amerika, Kanada, dan Eropa. Bahkan, di Eropa, setiap tahun ada pertemuan organik dari seluruh dunia.

“Kalau bicara di sana, tren pertumbuhan hasil perkebunan organik itu meningkat. Bahkan, kelompok organik itu sudah besar dan kami meyakini pertumbuhan konsumen organik tinggi karena pelan-pelan masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi,” ujarnya.

Atas dasar itulah, Anton berkomitmen untuk membantu para petani organik. Yaitu, dengan membeli produk-produk mereka dan dimulai sejak saat ini meskipun belum ada sertifikasi organik. “Tapi nanti kalau sudah ada sertifikasinya, kita kan sudah punya pasarnya,” pungkasnya. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          

607 Infrastruktur Kaltim Dibangun dari Dana Desa

Binsar Marulitua   Pendampingan
Bagikan:          
Bagikan: