Kisah Sedih Perajin Kasur Dalaka Pascagempa Donggala

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
08 Okt 2018   07:00

Komentar
Kisah Sedih Perajin Kasur Dalaka Pascagempa Donggala

Muslimah, pengrajin kasur tradisional Desa Dalaka (Foto : Thomas Aquinus/ Trubus.id)

Trubus.id -- Kehidupan warga Desa Dalaka, Kecamatan Sindue, Donggala dimulai tiap pagi. Nyaris setiap keluarga di desa ini melakukan aktivitas yang sama. Desa ini merupakan sentra kerajinan kasur tradisional yang terkenal sejak lama. Hasil karya para perajin kasur Dalaka tak hanya sebatas di Sulawesi, namun sudah menyebar sampai ke Kalimantan.

Selamat meski dagangan ludes

Akan tetapi aktivitas warga itu kini terpaksa berhenti karena gempa bumi dan tsunami yang memporak-porandakan Donggala dan Palu. Salah satu perajin yang menjadi korban bencana itu adalah Muslimah (42).

Kepada Trubus.id di rumahnya, perempuan ini bercerita, selain berhenti memproduksi, penjualan kasur dan gulingnya pun terhenti. Mata pencaharian ibu beranak tujuh ini pun makin tidak jelas. Palu yang menjadi salah satu kota tumpuan penjualan kasurnya tergulung bencana.  

"Saat terjadi gempa dahsyat itu, saya sedang berjualan di Mamboro dengan membawa 7 bantal," ucap Muslimah.

Menurutnya, saat gempa terjadi dan air laut mulai naik, dirinya langsung menitipkan barang dagangannya ke salah satu toko. Tanpa menunggu lama, ia melarikan diri, mencari tempat yang lebih tinggi.

Baca Lainnya: Jumlah Toilet Minim, Pengungsi Gempa Palu Terancam Penyakit

"Ada air sudah naik, saya titip itu bantal di toko depan Brimob, pikirannya kepingin cepat pulang," katanya.

Dikatakan Muslimah, dirinya baru bisa pulang pada pukul 10 malam setelah menumpang kendaraan menuju Dalaka, kampung halamannya. Setelah sampai di rumah, dirinya makin bersyukur menjumpai keluarganya yang selamat karena mengungsi di gunung.

Kehilangan penghasilan

Kini, sembilan hari pascabencana kehidupannya pun belum pulih. Biasanya siang hari ia sudah berangkat berjualan ke Kota Palu. Namun saat ini hari-harinya hanya menunggu bantuan yang tiap hari melewati desanya.

"Biasanya siang seperti sekarang ini sudah jualan di kota, satu hari biasa laku 3 biji, tergantung dari kita semampunya bawa saja," ujar perempuan tangguh ini.

Satu guling dan bantal buatannya biasa dihargai Rp25 ribu sampai Rp30 ribu, sedangkan untuk kasur dari Rp100 ribu sampai Rp250 ribu tergantung ukuran. Tiap harinya ia mampu membuat dua sampai tiga bantal dan guling.

Baca Lainnya: Cegah Penyakit Pascagempa, Tim Medis Lakukan Desinfeksi di Palu

Namun kini keadaan itu berubah 180 derajat, "Macam keadaan begini keuangan sempit kan, kita juga kena (imbasnya)," katanya.

Tantangan yang selama ini dihadapi Muslimah sebagai perajin kasur adalah bahan baku kapuk yang harus didatangkan dari wilayah lain, salah satunya Gorontalo. Dengan adanya bencana ini, akses menuju ke sana sulit, sedangkan persediaan kapuk di rumahnya makin menipis.  

Masalah klasik lainnya tentu saja modal. Selama ini Muslimah dan perajin kasur tradisional di wilahnya mengandalkan modal dari koperasi desa.

Perempuan ini berharap, semuanya segera pulih, berjalan normal seperti sebelumnya dan dirinya bisa kembali bekerja. [NN/SN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          

Koperasi Solusi Pemerataan Perekonomian Nasional

Thomas Aquinus   Keuangan Mikro
Bagikan:          
Bagikan: