Tengku Muhammad Dicky, Menjaga Budaya Melayu Melalui Kain Songket

TrubusPreneur
By Syahroni | Followers 2
16 Sep 2018   15:00

Komentar
Tengku Muhammad Dicky, Menjaga Budaya Melayu Melalui Kain Songket

Tengku Muhammad Dicky, pengusaha songket muda Sumut. (Foto : Trubus.id/ Reza Perdana)

Trubus.id -- Memperkenalkan kebudayaan Melayu melalui kain songket merupakan salah satu misi yang kini tengah dilakukan oleh Tengku Muhammad Dicky. Tidak hanya semata meraup keuntungan, melalui usahanya yang diberi nama 'House of Tengku Dicky', pria kelahiran 3 Juni 1993 tersebut selalu memberikan edukasi dan informasi mengenai kain tenun.

“Kain songket, terutama songket Melayu memiliki cukup banyak motif dan juga menggunakan bahan yang berbeda, ada yang dari kain sutra dan kain lainnya,” kata pria yang akrab disapa Dicky tersebut, Sabtu (15/9). 

Baginya, berbagi informasi terkait kain songket berarti turut serta melestarikan kebudayaan, terutama kebudayaan Melayu.

“Saya mengawali usaha ini juga karena sudah sejak kecil jatuh cinta dengan kebudayaan Melayu, yang memang merupakan suku yang sejak lahir saya anut dari leluhur,” jelasnya.

Dicky menceritakan, awal membangun usaha karena sejak masih kecil sering menemani sang nenek, yang juga menyukai dan mengoleksi kain songket. Ia rutin diajak sang nenek untuk bepergian ke beberapa daerah penghasil songket Melayu, dan melihat langsung bagaimana pembuatannya.

“Dari seringnya ikut nenek tersebut, ketika dewasa saya berpikir untuk membuatnya menjadi sebuah peluang usaha yang memang cukup banyak peminatnya,” tuturnya.

Dicky mendesain langsung motif-motif yang ada pada kain songket yang ia jual. Untuk pembuatannya, ia bekerjasama dengan beberapa pembuat kain songket yang memang sudah terbukti kualitasnya.

“Ada kepuasan tersendiri, selain bisa mendapatkan penghasilan, juga bisa mempertahankan dan memperkenalkan kebudayaan Melayu dari kain songket,” terangnya.

Ada cukup banyak pilihan motif dari kain songket yang bisa didapatkan di tempat usahanya yang berada di Jalan Petulah Satu, Nomor 14, Medan. Untuk mendapatkan desain dan motif yang berbeda-beda, tak jarang ia juga mengunjungi beberapa daerah yang memang mayoritas masyarakat Melayu, seperti Batubara dan beberapa daerah lainnya.

Harga yang ia tawarkan untuk produk kain songketnya juga cukup beragam, mulai Rp850 ribu hingga Rp3,5 jutaan. Harga tergantung pada motif dan juga tingkat kesulitan dari pembuatan.

Selain kain songket, di House of Dicky juga bisa didapatkan berbagai macam aksesori khas Melayu seperti tengkuluk atau topi khas Melayu, dan aksesori lainnya yang semuanya dibuat sendiri. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: