Bina Swadaya Berikan Solusi Konsumsi Air Bersih Kepada Korban Gempa Lombok

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
14 Sep 2018   07:00

Komentar
Bina Swadaya Berikan Solusi Konsumsi Air Bersih Kepada Korban Gempa Lombok

penyerahan alat air LifeStraw kepada pengungsi (Foto : Dok Bina Swadaya)

Trubus.id -- Kesulitan warga pengungsi korban gempa Lombok dalam mengakses air bersih untuk dikonsumsi menjadi alasan Bina Swadaya memberikan bantuan berupa alat air LifeStraw atau filter air minum. Menurut Agung Prasetio ketua tim Emergency Response (ER) Bina Swadaya, alat ini dapat menyaring air hingga bersih dan dapat menampung banyak air.

“Keunggulan alat ini adalah mampu menyediakan air bersih hingga 200 liter per hari dengan daya saring yang lebih kecil atau ukuran mikro,” katanya.

Hingga beberapa minggu sejak gempa besar yang melanda Lombok, banyak bantuan logistik yang diterima para pengungsi. Berdasarkan kajian mendalam yang dilakukan tim ER Bina Swadaya selama di lapangan, tim berupaya memberikan bantuan yang berbeda agar tidak terjadi penumpukan bantuan yang sama di satu lokasi. 

Warga mencoba langsung Lifestraw dengan isi air kran (Foto:Dok Bina Swadaya)

Menurut Agung, keputusan tim ER Bina Swadaya memberikan bantuan peralatan air bersih yang dapat langsung dikonsumsi masyarakat dinilai tepat. Hal tersebut dikarenakan selama ini banyak kebutuhan air minum di pengungsian warga masih tergantung pada bantuan. 

Baca Lainnya : 6 Desa di Lombok Sudah Mendapat Bantuan Logistik Tim ERCB

“Dengan adanya alat ini, maka warga tidak perlu repot lagi untuk mengonsumsi air bersih. Air bisa didapat dari sumber air (tanah) tinggal dimasukan saja kedalam alat ini,” ujarnya.

Agung juga mengatakan, keunggulan lainnya penggunaan alat ini (LifeStraw) adalah dapat meminimalisir penggunaan air kemasan yang terbuat dari plastik untuk menghindari penumpukan sampah. Selama ini, banyak air kemasan dalam bentuk gelas plastik maupun botol plastik yang disumbangkan kepada pengungsi bisa menimbulkan persoalan baru mengenai kebersihan.

Alat air bersih Lifestraw menjadi jalan keluar masalah air yang dapat dikonsumsi (Foto: Dok Bina Swadaya)

Untuk itu, melalui dana crowdfunding yang berhasil dikumpulkan oleh Bina Swadaya, Tim ER Bina Swadaya menggunakan dana yang terkumpul menyediakan 7 LifeStraw dan ditempatkan di 7 desa yang menjadi fokus kegiatan Bina Swadaya di Lombok. 7 Desa tersebut adalah, Desa Santong, Desa Sesait, Desa Kekait, Desa Sigar Penjalin, Desa sandik, Desa Lembah Sari dan Desa Kayangan.

"Ini juga merupakan bentuk tanggungjawab kami (Bina Swadaya) kepada para penyumbang dana yang telah mempercayakan Bina Swadaya untuk bantu korban gempa lombok," katanya.

Baca Lainnya : Selain Anak, Tim ERCB Juga Berikan Trauma Healing pada Orang Dewasa

Salah satu anggota ER Bina Swadaya, Anang Arifin yang mendistribusikan alat ke lapangan menyatakan, alat akan ditempatkan di lokasi strategis tempat berkumpulnya warga. 

“Rencana di (Desa) Santong sementara di taruh di tenda pengungsian, di Desa Sesait akan di taruh di kantor keluraan, kalau ada kegiatan olahraga pemuda atau pengajian ibu-ibu, di Desa Kayangan sementara akan di taruh di masjid, karena aktivitas masyarakat masih banyak berkumpul di masjid,” jelasnya.

Alat air bersih Lifestraw menjadi jalan keluar masalah air yang dapat dikonsumsi (Foto: Dok Bina Swadaya)

Lifestraw sendiri merupakan sebuah alat yang dirancang untuk menghasilkan air minum yang aman dan bersih untuk anda kapanpun dan dimanapun warga membutuhkannya. Filter air LifeStraw sangat ideal untuk keadaan darurat seperti bencana gempa Lombok saat ini.

Lifestraw

Seperti diketahui bersama, masih banyak di beberapa daerah pelosok di Indonesia masih terjadi krisis air bersih. Karena itu, diperlukan teknologi tepat guna untuk mengatasi hal tersebut dan LifeStraw muncul sebagai jawaban dari problem pelik tersebut.

Lahirnya LifeStraw sendiri telah melalui perjalanan evolusi yang panjang. Dimulai pada tahun 1994 ketika Carter Center meminta perusahaan penemu LifeStraw, Vestergaard, untuk membuat filter yang digunakan untuk menyaring larva cacing Guinea dari air yang terkontaminasi. 

Baca Lainnya : 125 Pengungsi di Desa Lembah Sari Mendapat Pelayanan Kesehatan Tim ERCB

Vestergaard mendesain filter kain yang kemudian berevolusi bentuk menjadi pipa di tahun 1999. Sekarang, sudah lebih dari 37 juta filter LifeStraw Cacing Guinea yang telah dibagikan ke daerah-daerah yang terkena penyakit ini.

Terinspirasi oleh dampak dari filter LifeStraw Cacing Guinea, Vestergaard bekerja terus mengembangkan sebuah produk yang bisa menyaring hampir semua polutan mikrobiologi sehingga menghasilkan air yang dapat dikonsumsi. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          

607 Infrastruktur Kaltim Dibangun dari Dana Desa

Binsar Marulitua   Pendampingan
Bagikan:          
Bagikan: