Kunci Pengembangan Komoditi Kopi Harus Dilakukan Sejak dari Hulu

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
02 Sep 2018   15:00

Komentar
Kunci Pengembangan Komoditi Kopi Harus Dilakukan Sejak dari Hulu

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kepala Dinas Pertanian Jayawijaya Hendri Tetalepta mengungkapkan, pengembangan kopi Arabica Wamena di Jayawijaya Papua perlu kerja sama berbagai pihak mulai dari petani, pemerintah, perbankan, hingga BUMN dan NGO.

Menurutnya, pengembangan komoditi kopi sangat penting dilakukan di bagian hulu, atau dimulai dari pembibitan, pembukaan lahan, perawatan, hingga proses panen.

"Pengembangan di sektor hulu, hingga saat ini masih didominasi oleh pemerintah dan belum ada pihak BUMN atau NGO yang terjun ke sektor ini," ujarnya.

Baca Lainnya : Sudah Saatnya Kopi Lokal Papua Bisa Eksis di Pangsa Pasar Domestik dan Internasional

“Jadi kalau disektor hulu tidak kuat, atau tidak ada produksi maka ini akan stop dan berhenti dengan sendirinya,” ujarnya.

Dikatakan Hendri, sampai saat ini pemerintah masih dominan di hulu dan belum ada sektor manapun yang membantu pemerintah. 

“Sebetulnya, kita berharap ada sinergitas dari semua pihak, misalnya perbankan melalui program CSRnya bisa membantu kami di hulu, tapi sampai sekarang belum ada, karena coastnya cukup besar, juga permasalahan lahan karena lahannya milik adat,” terangnya.

Sementara itu, untuk animo masyarakatnya menurut Hendri, selalu ada terutama untuk membuka lahan perkebunan, namun kembali lagi harus disesuaikan dengan kemampuan daerah, alokasi provinsi, dan juga APBN.

Baca Lainnya : Ingin Kembali Berjaya, Pemkab Jember Bina 214 Ribu Petani Kopi dan Latih Barista

“Kita berharap, pihak perbankan dan BUMN yang punya dana CSR, bisa membantu kami di hulu, kalau kami menyediakan benih, mereka dukung dengan peralatan. Namun selama ini CSR hanya ada di sektor hilir, dalam arti pengembangan pemasarannya yang sudah jadi dalam bentuk biji kopi,” katanya.

Diakui juga, sampai saat ini tenaga kerja di perkebunan kopi mayoritas tenaga kerja berusia non-produktif atau tenaga kerja usia tua. Sedangkan untuk tenaga kerja produktif, lebih cenderung ke kota dengan pekerjaan yang tidak jelas.

Oleh sebab itu, pihaknya melalui bagian penyuluhan, terus mendorong pendampingan dan sosialisasi agar bisa menarik kembali anak-anak muda yang produktif, untuk kembali ke kebun.

Baca Lainnya : Pengamat Pertanian Nilai Pengembangan SDM Petani Kopi Flores Belum Optimal

Luas lahan perkebunan kopi sendiri hingga saat ini ada 910 hektar lahan produktif, 350 hektar diantaranya lahan yang baru ditanam dan belum berbuah, dan 480 hektar masih produksi, dan ada 1.112 hektar yang dikategorikan kebun rusak dan tidak terpelihara.

“Kita punya produksi kopi sampai dengan Desember 2017 sebanyak 127,8 ton tetapi itu produksi dari Jayawijaya dan beberapa kabupaten pemekaran,” tutupnya. [NN]


 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: