Kisah Sukses Mulyono, Dipenjara Karena Sapi, Bangkit dan Berjaya Berkat Murai Batu

TrubusPreneur
By Syahroni | Followers 2
31 Agu 2018   19:45

Komentar
Kisah Sukses Mulyono, Dipenjara Karena Sapi, Bangkit dan Berjaya Berkat Murai Batu

Mulyono bersama burung Murai Batu seharga Rp230 juta hasil penangkarannya. (Foto : Trubus.id/ Syahroni)

Trubus.id -- Menjalani kehidupan menuju tangga kesuksesan memang tidak mudah. Acap kali halang rintang yang menghadang, menjadi batu sandungan untuk mencapai tujuan. Namun demikian, mental dan kegigihan yang kuat dibantu doa, dipercaya mampu menghadapi semua masalah itu. Setidaknya, itulah yang dirasakan Mulyono hingga sekarang. 

Yah, pria 38 tahun asal Lampung ini tidak serta merta mendulang kesuksesannya. Beragam halang rintang dilaluinya sebelum menjadi peternak burung murai batu yang cukup sukses dan banyak dikenal kalangan pecinta burung kicau. 

Kepada Trubus.id, suami dari Nuraini ini menceritakan, usaha budidaya murai batu yang ia lakoni di rumahnya di kawasan Pekapuran, Sukatani, Tapos, Kota Depok ini dimulai dari bawah. 

Semuanya bermula ketika ia gagal menjalani bisnis jual beli sapi di Lampung tahun 2007 silam. Ayah 4 anak ini bahkan mengakui, akibat kegagalannya menjalankan bisnis jual beli sapi kala itu, ia sampai masuk penjara.

"Yah, sempat masuk penjara 1 tahun. Karena duit sapi dibawa orang. Nggak bisa ganti," terang Mulyono kepada Trubus.id beberapa waktu lalu.

Pun demikian, selepasnya dari penjara Mulyono yang saat itu masih memiliki 2 anak tidak mau menyerah. Berkat dorongan sang istri yang selalu setia menemani, ia memutuskan untuk merantau ke ibu kota. 

"Tahun 2007, saya ke Depok. Jualan bumbu renceng keliling kampung. Anak masih 2. Semua saya bawa," terangnya lagi.

Selama menjalani usaha pertamanya di Depok, pria keturunan Solo, Jawa Tengah ini tetap menjalani hobinya memelihara burung. Beragam burung dipelihara di rumah kecilnya. Hingga suatu hari, ia ditawari seekor murai batu lomba.

"Dulu tuh nggak ada niat mau ternak. Awalnya beli burung juara. Ditawari 15 juta. Tapi enggak punya duit. Ada tabungan cuma 4 juta. Sama yang punya dikasih, bikin surat perjanjian kalau sisanya dicicil," kenang Mulyono.

Niat Mulyono membeli burung murai batu bernama Putra Aceh itu bukan tanpa perhitungan. Pasalnya, dengan melombakan burung jawara, dia mempunyai peluang untuk menjuarai beragam lomba yang akhirnya bisa mendongkrak harga jual burung itu sendiri.

Namun rupanya cobaan datang lebih awal. Di bulan pertama, dia tidak punya uang untuk membayar cicilan pertamanya. 

"Yah saya pasrah. Saya bilang cuma punya uang 2 juta. Mau diambil trus burungnya dibawa lagi yah saya pasrah. Tapi untungnya yang punya percaya. Burung tetap boleh saya bawa," katanya.

Tak ingin mengecewakan orang tersebut, Mulyono semakin gigih berkeliling kampung menjajakan bumbu renceng dagangannya. Setiap subuh, dia mulai mengayuh sepedanya keliling kampung. Hasilnya, beberapa bulan kemudian hutangnya terlunasi.

Tapi meski demikian, rintangan kembali datang. Seusai lunas, burung kesayangannya yang telah menjuarai beragam lomba, rusak karena diserang kutu.

"Wuih, itu bulunya rusak parah. Pada rontok. Saya cuma bisa pasrah deh. Diobati enggak sembuh-sembuh," terangnya.

Di tengah kepasrahannya itulah, ide untuk menangkarkan murai muncul. Dengan uang seadanya, ia membeli seekor burung murai batu betina. Sudut kontrakannya yang semula adalah WC, disulap menjadi kandang penangkaran. 

Murai betina seharga Rp750 ribu yang ia beli lalu dimasukan ke kandang sederhana itu. Kemudian Putra Aceh juga dimasukan. Kandang itu lalu ditutup rapat. Mulyono tak pernah menyangka, langkahnya itu rupanya mendapat jalan dari yang maha kuasa. 

Beberapa minggu setelah disatukan, terdengar suara anak murai dari kandang tersebut. Mulyono terkejut. Pasalnya tak ada perlakuan istimewa yang dilakukan agar kedua burung itu mau cepat berkembang biak. 

"Saya enggak nyangka tau-tau kedengeran suara ciet-ciet, kayak anakan murai. Duh saya seneng banget waktu itu. Soalnya nggak ngarepin, wong cuma dikasih jangkrik tok," ujar Mulyono dengan logat jawanya yang kental.

Beranjak dari anak-anak Putra Aceh, Mulyono mulai menata usahanya. Setelah 12 kali produksi, ia sudah mulai memiliki puluhan pasang burung murai batu. 

"Anakan Putra Aceh banyak yang minati. Karena bagus kayak jantannya," terang Mulyono lagi.

Kini usaha yang dirintis Mulyono sudah bisa membuat keluarga kecilnya tersenyum bahagia. Total, Mulyono kini sudah memiliki 25 pasang indukan murai batu yang tersebar di beberapa lokasi berbeda.

Setiap bulannya, paling sedikit ia bisa mendapat 20 ekor anakan murai batu yang dijualnya mulai dari Rp2,5 juta-Rp10 juta per ekor untuk anakan usia 2 bulan. Sementara untuk murai batu siap lomba, biasa ia jual seharga Rp20-Rp30 juta. Bahkan murai batu lomba hasil penangkarannya ada yang mencapai harga Rp230 juta. Burung itu ia beri nama Black Forest.  

Tak hanya menjual anakan murai dan murai siap lomba, Mulyono juga kini menujual indukan-indukan produksi. Indukan produksi dari Mulyono dijual seharga Rp10-30 juta per pasangnya.

Rata-rata, pelanggan burung dari Mulyono BF sendiri berasal dari wilayah Jabodetabek hingga Jawa Tengah, Timur bahkan luar pulau Jawa. 

Dari usahanya itu, Mulyono juga tergerak membantu sesama. Dengan memberdayakan warga sekitar contohnya. Rumah-rumah tetangga disewanya sebagai lokasi menyimpan burung lomba. Ada juga yang diajak kerja sama dalam bentuk penangkaran murai dengan sistem bagi hasil.

"Kalau yang ngontrak buat burung lomba di taruh di rumah-rumah tetangga itu biaya Rp500 ribu sebulan. Itu cuma numpang taro kandang sama burungnya aja, kita yang tetap ngurusin mulai dari makan sama bersihin kandangnya," terang Mulyono.

Tak hanya pada tetangga sekitar, Mulyono juga memberdayakan para pencari kroto disekitar tempat tinggalnya. Salah satunya adalah Kong Somad. Pria 82 tahun itu setiap hari mencari kroto ke kampung-kampung dan diserahkan ke Mulyono untuk pakan burung.

"Yah, kita kan berdayakan warga sekitar. Sekalian sedekah. Biar berkah," ujar Mulyono.

Kini, Mulyono BF memiliki 5 pekerja. Setiap bulannya, ia mendapat penghahsilan rata-rata sampai Rp100 juta. Namun untuk biaya operasional seperti membeli pakan dan membayar gaji karyawannya, Mulyono menghabiskan uang hampir Rp40 juta per bulan.

Kini Mulyono berharap, usahanya bisa terus berkembang. Kendala regulasi pemerintah yang memasukan murai batu ke dalam satwa dilindungi bisa mengancam usahanya dan orang-orang lain yang menjalankan bisnis serupa. Karenanya ia berharap, pemerintah mau mencabut murai batu dari daftar burung dilindungi.

"Gara-gara peraturan pemerintah, banyak orang bisa nganggur. Karyawan saya aja 5 orang bisa terancam. Belum Kong Somad yang cari kekroto, belum tetangga yang rumahnya saya kontrak untuk taruh burung, belum penjual pakan, pengrajin kandang. Pokoknya banyak lah. Makanya mudah-mudahan pemerintah mau berpihak pada rakyat aja lah," tutup Mulyono. [RN]


 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: