Pembuktian Toko Trubus Rehabilitasi Lahan Gambut di Kebun Raya Sriwijaya, Ini Hasilnya

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
01 Agu 2018   06:00

Komentar
Pembuktian Toko Trubus Rehabilitasi Lahan Gambut di Kebun Raya Sriwijaya, Ini Hasilnya

Lahan Gambut di Kebun Raya Sriwijaya (Foto : Trubus.id / Thomas Aquinus)

Trubus.id -- Provinsi Sumatera Selatan dikenal memiliki lahan basah (gambut) yang sangat luas menutupi sebagian wilayahnya. Lahan basah ini memiliki karakter yang unik, yaitu dengan kelembapan tanah yang sangat tinggi, bahkan cenderung tergenang. 

Kondisi inilah yang memungkinkan keberadaan spesies-spesies tumbuhan endemik yang telah mampu beradaptasi dengan kondisi ekstrem. Keanekaragaman tumbuhan yang tinggi dan keberadaan masyarakat di wilayah tersebut sudah sejak lama memanfaatkan tumbuhan, salah satunya sebagai tumbuhan obat. 

Berdasarkan hal tersebut Kebun Raya Sriwijaya (KRS) ditetapkan sebagai kawasan konservasi tumbuhan lahan basah dan tanaman obat.

Baca Lainnya : Kebun Raya Lahan Gambut Terbesar di Indonesia Hari Ini Diresmikan

Kebun Raya Sriwijaya yang baru saja diresmikan oleh Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin memiliki luas hingga 100 hektar. Kepala Badan Litbangda Provinsi Sumsel Lukitariati dalam sambutannya mengungkapkan, 70 persen lahan digunakan untuk konservasi tumbuhan dengan jumlah tanaman yang ada di kebun raya berjumlah 36.574 spesimen. 

Untuk mengisi 70 persen KRS tersebut, salah satu bentuk kebijakan Pemerintah Daerah adalah dengan menggandeng partisipasi kewajiban dari Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) yang ada di Sumatera Selatan. Hal tersebut sesusai dengan peraturan Menteri Kehutanan RI Nomor P16/Menhut/II 2014 tentang pedoman Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH).

Tanaman berhasil tumbuh di lahan gambut yang juga bekas lahan kelapa sawit (Foto:Trubus.id/Thomas Aquinus)

Salah satunya adalah SKK Migas-ConocoPhillips (Grissik) yang menggandeng PT Trubus Mitra Swadaya (Toko Trubus) sebagai mitra pelaksana di lapangan merehabilitasi kawasan seluas 35,41 hektar atau yang paling luas diantara 3 Perusahaan lainnya. 

Baca Lainnya : Kelembaban Gambut Berkurang, Pemantauan Titik Karhutla Ditingkatkan

Manager Pemasaran Toko Trubus Udi Yuswanto mengungkapkan, jalinan mitra dengan SKK Migas-ConocoPhillips (Grisik) berawal dari dilakukannya proses tender yang menjadikan Toko Trubus sebagai pelaksana di lapangan.

“Dalam melakukan pekerjaan di lapangan Toko Trubus selalu berkordinasi dengan beberapa ahli gambut di Palembang. Selain itu juga berkordinasi dengan Profesor Sri dari IPB, dan melibatkan masyarakat setempat untuk melakukan rehabilitasi DAS penanaman lahan gambut bersama-sama,” jelasnya.

Sistem pengairan sangat penting bagi pertumbuhan tanaman di lahan gambut (Foto:Trubus.id/Thomas Aquinus)

Sementara itu, Direktur Toko Trubus Yustina mengungkapkan, kesempatan ini merupakan tantangan sekaligus pembelajaran yang baik, pihaknya meyakini lahan gambut bisa di rehabilitasi kembali.

Sejak penanaman perdana yang dilakukan pada akhir tahun 2016, sejumlah hasil sudah bisa dilihat secara nyata. 

“Bibit yang digunakan sudah di seleksi betul melalui kerjasama petani  penangkar tanaman  spesial gambut yang memahami dan berpengalaman tentang asal usul benih tersebut,” ujar Udi.

Baca Lainnya : Kondisi Lahan Gambut Kritis, Karhutla Makin Rawan di Riau

Beberapa tanaman berhasil tumbuh dengan cepat dan subur seperti Pulai (Aistonia spp), Jelutung Rawa (Dyera Lowii), maupun Ramin (Gonystylus bancanus) yang terlihat tinggi dan mulai menghijau. 

Hal tersebut diakui juga oleh Senior Vice President Commercial Business Development and Relations SKK Migas-ConocoPhillips (Grissik), Taufik Ahmad yang ditemui trubus.id mengapresiasi sinergi Toko Trubus dan pihaknya yang dibuktikan dengan tingkat tanaman yang tumbuh mencapai 90 persen. 

Senior Vice President ConocoPhillips Taufik Ahmad menunjukkan tanaman Jelutung Rawa (Dyera lowii) yang ditanamnya pada akhir 2016 (Foto:Trubus.id/Thomas Aquinus) 

Presentase tumbuh yang tinggi menunjukkan adanya perawatan yang intensif dari pengelola tanaman dan adanya kegiatan penyulaman tanaman.
“Keberhasilan sekarang melalui proses panjang yang penuh liku. Kuncinya tim harus disamakan visi dan misinya,” kata Yustina.

Karakteristik Lahan Gambut

Hal yang sama juga diutarakan oleh supervisor di lapangan Bambang, menurutnya kunci keberhasilan salah satunya adalah keseriusan untuk orientasinya ke proses, kemudian secara teknisnya dilakukan pengukuran atau pengaturan air di lahan gambut.

“Pengaturan muka air gambutnya sendiri jangan terlalu kering, jangan juga terlalu basah. Dimana itu akan berkaitan dengan jenis tanaman yang kita tanam,” katanya. 

Menurutnya kalau terendam (terlalu banyak air) ada sebagian jenis tanaman yang intoleran dengan air dan akan mengalami pembusukan, tapi yang toleran dengan air tidak akan masalah. “Makannya kuncinya adalah pengaturan tata kelola air di gambutnya”, tambahnya.

Kanalisasi di lahan gambut sangat penting untuk mencegah terjadinya kebakaran (Foto: Trubus.id/Thomas Aquinus)

Sementara itu, penanggungjawab proyek Toko Trubus di lapangan, Yatno berpendapat, lahan gambut memiliki cara yang berbeda dalam perlakuannya. “Tanaman juga harus mengikuti, harus endemik yang cocok di lahan gambut,” ujarnya.

Menurutnya, lahan gambut memiliki karakteristik tersendiri. Lahan gambut di KRS dinilai memiliki kadar pH terlalu rendah, sehingga tidak sesuai dengan beberapa jenis tanaman seperti Merawan. Kapabilitas atau daya adaptif tanaman jenis Merawan dinilai tidak cocok dengan lingkungan di KRS. 

“Mungkin dia cocok dengan gambut yang dekat dengan air yang ada kadar garam, dekat dengan pasang surut, itu juga gambut karena phnya tidak terlalu tinggi gitu. Sedangkan tempat kita ini pHnya terlalu rendah,” jelasnya. 

Tantangan Lahan Gambut

Keberhasilan dengan presentase yang besar terhadap tanaman yang tumbuh harus benar-benar harus dijaga dari faktor alam atau tangan jahil yang menyebabkan terjadinya kebakaran. Seperti diketahui bersama lahan gambut sangat rentan terjadi kebakaran.

“Tantangan belum selesai, tantangan sekarang di musim kemarau adalah kebakaran. Jadi patroli sangat intens dilakukan,” ujar Yustina.

Pada musim kemarau, lahan gambut akan sangat kering sampai kedalaman tertentu dan sangat mudah terbakar. Gambut mengandung bahan bakar (sisa tumbuhan) sampai di bawah permukaan, sehingga api di lahan gambut menjalar di bawah permukaan tanah secara lambat yang sulit dideteksi, dan menimbulkan asap tebal.

 Pulai (Aistonia spp) berhasil tumbuh subur di lahan gambut (Foto:Trubus.id/Thomas Aquinus)

Bambang mengungkapkan, proses suksesi (berjalan secara alami) konversi lahan gambut yang pernah terbakar membutuhkan adanya pengelolaan. Salah satu bentuk pengelolaan yang dilakukan dari Trubus selama ini adalah bagaimana memberikan sentuhan untuk tanaman gambut agar pertumbuhan dapat berjalan lebih cepat.

“Kita hadir disana bagaimana mengupayakan supaya proses itu dipercepat untuk mengurangi resiko untuk kebakaran,” katanya. 

“Kalau kita di lapangan secara teknis menyiapkan alat pemadam kebakaran terus sumber daya manusia yang tahu cara mengantisipasi kebakaran. Untuk penyadarannya kita pasang peringatan sebagai salah satu bentuk upaya bahaya kebakaran hutan,” tambahnya. 

Tim Manggala Agni sedang melakukan pratoli di lahan gambut Kebun Raya Sriwijaya (Foto:Trubus.id/Thomas Aquinus)

Selain itu, pembuatan sekat atau kanalisasi dinilai juga dapat mengurangi resiko api cepat menyebar. “Itu juga salah satu bentuk upaya membuat sekat (kanalisasi) bagaimana mencegah loncatan api itu terjadi,” ujar Bambang. 

Toko Trubus melakukan rehabilitasi kawasan KRS dengan 19 jenis tanaman yang dinilai adaptif dengan lingkungan gambut. Jarak tanam 4m x 3m dengan populasi rata-rata 384 hektar per hektare diupayakan dapat memberikan ruang bagi pertumbuhan tanaman. [NN]


 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: