Kisah Sukses Usaha Tenun Ikat NTT Yus dan Dorce Bermodal Rp20 Ribu

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
12 Juli 2018   08:30

Komentar
Kisah Sukses Usaha Tenun Ikat NTT Yus dan Dorce Bermodal Rp20 Ribu

Rumah tenu Ina Ndao, NTT (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Yus Lusi bersama sang istri, Dorce Lusi, pendiri sentra tenun Ina Ndao di kota Kupang, NTT mengungkapkan, membangun usaha secara bersama memang tidak mudah. Menurutnya yang dibutuhkan adalah modal, ketekunan, serius dan konsistensi menjaga kualitas produk. 

Usaha bersama Yus Lusi sendiri dibangun di bawah payung koperasi bisnis dengan anggota UKM yang mayoritas masih pemula dengan pemahaman koperasi yang sangat minim. 

Berangkat dari modal Rp20.000, pada tahun 1991 Yus dan Dorce berani mendirikan usaha tenun Ina Ndao. Dengan modal terbilang minim tersebut dipakai untuk membeli benang sebagai bahan baku menenun. 

Baca Lainnya : Pasangan Suami Istri Ini Sukses Tingkatkan Usaha Sandal Miliknya

Namun siapa sangka, Ina Ndao saat ini telah mampu mendidik ribuan UKM tenun dan "meminjamkan" modal usaha bagi 200-300 UKM tenun dengan besaran Rp1 juta– Rp5 juta per UKM tenun setiap tahunnya di wiayah Kota Kupang dan sekitarnya. 

Saat memulai usaha tenunnya, Yus menceritakan awal mulanya ia hanya bertiga bersama istri dan seorang rekan lainya. Lalu, mertua dan sang ibu juga diajak Yus dan Dorce turut serta mengembangkan usaha tenun ikat tersebut.

(Foto: Instagarm tenuninandao)

"Memang, di tahun-tahun awal penjualan sangat minim. Satu bulan mungkin laku satu-dua lembar kain saja seharga 50 ribu hingga 60 ribu per lembar. Itu berjalan sepanjang tahun," ujar Yus seperti dilansir dari wartaekonomi.

Krisis moneter yang menimpa Indonesia tidak berpengaruh terhadap usaha Yus, Bahkan di tahun itulah, sentra tenun ikat Ina Ndao mulai bernapas dari pesanan Ikatan Wanita Buruh Indonesia sebanyak 200 lembar dengan harga Rp500.000 tiap lembarnya.

Baca Lainnya : Rosyid Akhmadi Binaan Kemenkop UKM Raih Sukses dari Bahan Dasar Bambu

Inilah awal mula Yus melebarkan sayap usaha tenun ikat bersama istrinya. Dorce yang mempunyai keahlian menenun, dengan percaya diri mulai membuka pelatihan menenun kepada warga yang berminat. 

Langkah tersebut mendapat dukungan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat di NTT. Ina Ndao pun mendapat bantuan senilai Rp2,5 juta dari PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) yang difasilitasi oleh Dinas Perindustrian NTT. 

(Foto: Instagarm tenuninandao)

Saat ini, pelatihan menenun telah dikelola secara serius di bawah wadah Lembaga Pendidikan Pelatihan Masyaraat (LP2M) Seni Flobamora.

"Kita memulai pelatihan tersebut sejak tahun 1997. Tiap tahun, Ina Ndao menerima hingga lima angkatan kursus menenun. Dalam satu angkatan setidaknya ada 25 murid," jelas Yus.

Baca Lainnya : Fauzan, Sukses Beternak Landak dari Belakang Rumah

Yus mengatakan, bahwa pelatihan menenun jangkauannya telah diperlaus ke beberapa wilayah di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.

"Nanti kita buka pelatihan tenun di Lapas Kupang dan Agustus nanti kita kerja sama dengan Astra untuk melatih 10 sekolah di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, selama 10 bulan ke depan," terangnya. 

Maka tidak heran, sejak berdiri 1991, sentra tenun ikat Ina Ndao telah melatih ribuan orang. Pelatihan yang diberikan mulai dari pemintalan, pewarnaan, desain motif, kelenturan kain, kerapian, dan proses menenun.

Baca Lainnya : Muslahuddin Daud, Sukses Jadi Petani Setelah Resign dari Bank Dunia

Hasilnya, sentra Ina Ndao tiap bulannya memproduksi 40 lembar kain, yang dihasilkan belasan penenun tetap. Belum termasuk produksi dari para binaan di 16 kabupaten/kota yang berjumlah ratusan lembar setiap bulan.

Satu lembar kain dihargai dari bahan baku, lama proses penenunan, keindahan, jenis benang, dan pewarnaan. Harganya bervariasi, mulai dari Rp30.000 hingga Rp4.000.000 per lembar.

(Foto: Instagarm tenuninandao)

Koperasi Serba Usaha Karya Ando

Namun, di balik keberhasilan sentra tenun Ina Ndao tersebut, ada peran besar dari Koperasi Serba Usaha (KSU) Karya Ando yang didirikan Yus dan rekan UKM pada 2003. 

Yus sadar, guna mendukung usaha tentu butuh modal. Apalagi, UKM yang lahir dari Ina Ndao jumlah mencapai ratusan.

"Jadi, dengan 20 anggota yang adalah UKM tenun Ina Ndao, kami bersepakat mendirikan KSU Karya Ando dengan modal awal koperasi saat didaftarkan Rp20 juta. Lalu, kita dapat modal dari Kementrian Koperasi sebesar Rp150 juta," jelas Yus.

Baca Lainnya : Kisah Sukses Rama Jee, Make Up Artist Sukses Langganan Artis Papan Atas

Menurutnya, kendala terbesar yang dihadapinya untuk mengembangkan tenun ikat terletak pada kualitas sumber daya manusia.

"Lebih banyak sumber dayanya yang malas, tidak mau bekerja. Jadi, untuk melestarikan tenun ikat juga tidak mau," katanya.

Yus sebenarnya menyimpan harapan besar suatu saat nanti muncul sentra-sentra tenun ikat di berbagai daerah di NTT. Dia tak merasa tersaingi jika hal tersebut benar-benar terwujud. Sebaliknya, dia justru merasa senang karena kerja kerasnya mendapat dukungan dari banyak orang.

Baca Lainnya : Dengan Hidroponik, Sekarang Faris Sukses Jadi Petani Kekinian

Oleh sebab itu, melalui koperasi, Yus mengajak para pelaku UKM tenun yang mempuyai wawasan dan pemikiran yang sama membangun usaha tenun di NTT. Walaupun sudah ribuan peserta UKM di NTT yang diajarinya menenun, Ina Ndao sadar betul tak semuanya berhasil mengembangkan tenun ikat.

"Dari sekitar 100 yang saya latih tiap tahunnya maka ada 10 saja yang mengembangkan tenun ikat itu sudah lebih dari bagus," terangnya. 

(Foto: Instagarm tenuninandao)

Yus juga melakukan pembinaan dengan melibatkan para mantan UKM binaan yang mengembangkan tenun ikat di daerahnya menjadi mitranya dan bergabung di KSU Karya Ando. Jika Ina Ndao mendapatkan orderan dalam jumlah besar, Yus akan mengikutsertakan para mitra perajin tersebut untuk menggarap di rumahnya masing-masing. 

Yus menjelaskan, hubungan mitra binaan dan Ina Ndao tidak mengikat. Artinya, mitra binaan bebas menjual hasil tenun ikatnya kepada siapa saja, tak harus kepada Ina Ndao.

Baca Lainnya : Nila Tanzil, Sosok di Balik Kesuksesan 63 Taman Bacaan Pelangi

"Kalau harga jual ditawar lebih tinggi ditempat lain, silakan. Kalau lebih rendah dari Inda Ndao, silakan jual ke kita. Tetapi, syaratnya tetap jaga kualitas. Kami tidak menerima sembarangan produk tenun," ujar Yus.

Ina Ndao pun tak khawatir bakal tersaingi dengan munculnya sentra penenun ikat di beberapa desa di NTT. Keinginannya untuk memasyarakatkan tenun ikat justru semakin cepat terwujud dengan keberadaan sentra perajin di banyak desa.

"Setiap daerah di NTT itu mempunyai motif tenun yang khas. Semakin banyak desa yang punya sentra penenun, berarti makin banyak pula pilihan motif tradisional tenun kami," ucapnya. 

Saat ini mitra-mitra Ina Ndao tersebar di sejumlah kabupaten di NTT, antara lain di Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Ende, dan Flores Timur. Sementara di Ina Ndao sendiri, Yus mempekerjakan sekitar belasan penenun ikat. 

Dalam sebulan, Ina Ndao bisa mencetak omzet hingga Rp200 juta. Dari keuntungan tersebut, Yus dan istri selalu menyisihkan 10% untuk memajukan Ina Ndao yang disebutnya sebagai sentra tenun ikat NTT. [NN]

  1


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Nino 12 Juli 2018 - 09:32

Wow, sangat menginspirasi... selamat dan sukses.

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: