Diet Kantong Plastik Bikin Produksi Tas Purun di Banjarmasin Meningkat

TrubusNews
Binsar Marulitua
04 Juli 2018   16:30 WIB

Komentar
Diet Kantong Plastik Bikin Produksi Tas Purun di Banjarmasin Meningkat

Pelarangan kantong plastik sekali pakai di pusat perbelanjaan modern di Banjarmasin membuat penjualan tas purun meningkat. (Foto : Trubus.id/ Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Kota Banjarmasin menjadi yang pertama dalam penerapan kebijakan larangan penggunaan kantong plastik di pusat perbelanjaan modern. Larangan tersebut membawa peluang pada peningkatan ekonomi masyarakat melalui penjualan tas bakul anyaman dari eceng gondok, biasa disebut tas purun.

Asisten Perekononian Setda Banjarmasin, Hamdi mengatakan jika Banjarmasin berhasil mengurangi timbulan sampah kantong plastik sebesar 52 Juta lembar per bulan setelah dikeluarkannya Perwali No.18 Tahun 2018. Dan ternyata, efeknya bukan hanya berkurangnya sampah saja. Tapi juga semakin menggeliatnya produksi tas purun yang terindikasi dari permintaan modal oleh sejumlah usaha kecil menengah.

Baca Lainnya : Pemkot Balikpapan Resmi Larang Semua Ritel Pakai Kantong Plastik

"Produksi tas purun semakin menggeliat produksi di Banjarmasin. Walaupun sangat signifikan, Pemkot belum mendata. Sebelumnya hampir ditinggalkan dan hanya beberapa saja yang produksi. Kini, banyak yang datang untuk meminta modal," jelas Hamdi di Gedung Manggala Wanabakti, KLHK, Selasa (6/4).

Seiring terbatasnya dana Pemkot Banjaramsin, Hamdi menuturkan jika permintaan modal dari masyarakat belum sepenuhnya bisa dikabulkan. Pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian perdagangan (Perindag) dan Dinas Koperasi dan UMKM untuk memprioritaskan pinjaman bagi sentra produksi kecil yang mempekerjakan para disabilitas. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk pengajuan lain dengan skala pertimbangan tertentu.

Baca Lainnya : Mulai Juli Nanti, Balikpapan Larang Penggunaan Kantong Plastik Sekali Pakai

"Sampai hari ini ada beberapa industri kecil menengah mulai mendayagunakan para disabilitas. Termasuk sample yang saya bawa ke sini juga hasil karya disabilitas. Selain menekan pertumbuhan eceng gondok di sungai-sungai yang ada di Banjarmasin, langkah Perwali ini banyak mendapat dukungan dari masyarakat. Hanya sedikit saja yang mengeluh," tambahnya.

Meskipun sudah tiga tahun berjalan dan membawa dampak yang cukup signifikan, Hamdi menuturkan jika pihaknya mulai mencoba penggunaan Perwali untuk pasar tradisional, termasuk sejumlah pasar apung di Banjarmasin.

Baca Lainnya : Ketahuan Pakai Kantong Plastik Sekali Pakai, Warga di Mumbai Didenda Rp5,2 Juta

"Kami mau mencoba menantang mulai dari pasar apung. Kemungkinan seperti apa tanpa kantong plastik dan bahkan tanpa sampah? Jika dinilai bisa, kami segera sasar pasar, membuat percontohan pasar sehat. Nantinya, di dalam pasar sehat tidak ada lagi kantong plastik," tambahnya.

Ujicoba larangan kantong plastik di pasar tradisional sudah dimulai sosialisasinya pada Januari 2018. Mulai diberlakukan pada Februari 2018.

"Sampai sekarang berjalan. Belanja ke pasar tradisonal pun memakai tas purun," tambahnya. [DF] 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: