Kartika Puspasari Awetkan Bunga Menjadi Abadi Hingga Menguntungkan

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
13 Feb 2018   19:15

Komentar
Kartika Puspasari Awetkan Bunga Menjadi Abadi Hingga Menguntungkan

Kartika Puspasari (empat dari kiri) bersama rekan dan hasil bunga kering dalam bingkai (Foto : Foto: Facebook/Kartika Puspasari)

Trubus.id -- Bunga menjadi keindahan tersendiri bagi Kartika Puspasari Kusnadi. Simbol keindahan yang digunakan orang untuk mengungkapkan perasaannya ini diawetkan menjadi bunga kering agar bisa bertahan lama bahkan bertahun - tahun.

Menurutnya, bunga segar tidak akan bertahan lama, cepat layu dan mati. Namun, berkat kreativitas Kartika, bunga diabadikan dalam bentuk buket kering yang ditata dalam bingkai tiga dimensi.

Menariknya lagi, kreativitas merangkai bunga keringnya dijadikan ladang bisnis yang menjanjikan lewat usaha Magnolia Dried Flower. Disinilah hasil rangkaian bunga keringnya bisa dilihat secara langsung. 

“Kami menghadirkan rangkaian bunga kering untuk menyimpan kenangan spesial, terutama untuk hari paling bersejarah dalam hidup seperti pernikahan. Kerena bagi saya setiap bunga menyimpan kisah tersendiri yang akan dikenang seumur hidup,” kata perempuan yang biasa dipanggil Tika. 

Menurutnya produk bunga kering yang dihasilkan Magnolia ini berbeda dari rangkaian bunga kering lainnya. Hal terebut karena rangkaian bunga kering miliknya berasal dari bunga asli yang mengalami teknik botanical rumit.

Tika mengutamakan hasilnya tetap mempertahankan kecantikan asli layaknya bunga yang baru dipetik. Seperti bunga mawar, peony, hingga magnolia semuanya masih terlihat bentuk aslinya meskipun sudah diawetkan.

Tidak berhenti dengan bunga kering, Tika memberikan sentuhan seni pada bunganya. Seperti bunga yang menjelma menjadi buket untuk pengantin maupun korsase. Selain bunga yang diawetkan, perempuan kelahiran Jakarta 6 Februari 1985 ini juga berkreasi dengan pernak - pernik seperti souvenir, undangan, foto hingga kartu ucapan.

Magnolia Dried Flower yang dirintis sejak tahun 2013 memiliki keunikan sendiri sehingga makin berkembang. Awalnya Tika memulai usahnya berdasarkan pesanan yang diterima hasil rekomendasi teman-temannya. Namun kini produk Magnolia semakin dikenal luas, bahkan selebriti seperti Tyas Mirasih, Fita Angraini, dan Ryana Dea, mengenakan buket dari Magnolia di hari bahagia mereka.

Kreativitas Tika juga hadir dalam berbagai bentuk dekorasi. Seperti bunga dalam tabung, bunga dengan bingkaian atau kartu special untuk ulang tahun hingga ucapan selamat ataupun undangan. “Kalau disimpan di ruangan dengan sirkulasi yang baik, tidak lembab dan tidak terkena cahaya matahari langsung, maka akan tahan lama. Dulu saya pernah membuatkan teman saya saat masih belajar, dan sampai 15 tahun bunganya masih awet tidak ada yang berubah,” jelasnya.

Foto : Instagram/magnolia_bouquet

Belajar Hingga ke Negeri Kincir Angin

Ide awal merangkai bunga menurutnya terjadi secara tidak sengaja. “Waktu itu saya menikah dan dapat hadiah bunga peony. Bentuknya sangat cantik waktu segar, jadi saya coba cari akal gimana caranya supaya bunga ini tetap terlihat seperti ini (segar). Kemudian saya temukan caranya pakai teknik botanical yang bisa bertahan sampai puluhan tahun,” jelasnya.

Dari situlah ide Tika muncul dengan mengabadikan berbagai bunga yang digunakan acara pernikahan. Totalitas dengan passionnya, perempuan lulusan public relation London School ini akhirnya memutuskan mendalami teknik botanical. Bahkan, tidak tanggung - tanggung ia sampai belajar ke Jepang, Belanda hingga ke Amerika untuk bisa mendapatkan keterampilan mengeringkan bunga dengan baik.

Setelah merasa cukup menguasai, Tika memutuskan memulai bisnis bunga kering di tahun 2013. Nama Magnolia pun dipilih. “Karena bunga Magnolia adalah bunga yang paling sulit untuk dikeringkan,” katanya sambil tertawa.

Totalitas di bidangnya ini diwujudkan dengan berinvestasi alat pengeringan yang harganya mencapai Rp 500 juta. “Untung keinginan saya ini mendapat dukungan dari keluarga, terutama suami,” ujarnya.

Menurutnya, alat tersebut sangat penting karena tiap produk bunga itu harus melalui proses pengerjaan khusus. Proses pengerjaannya diawali dari pemilihan jenis bunga, bentuk dan warna. Baru dilanjutkan proses lengkap seperti pengeringan satu per satu sesuai dengan jenis bunga dan tingkat kelembabannya. 

Foto: Instagram/magnolia_bouquet

Akhir dari proses ini adalah membuat tampilan bunga terlihat cantik seperti aslinya. “Jadi perlakuan dari setiap jenis bunga itu berbeda-beda untuk mendapatkan hasil yang terbaik,” ucapnya.

Sebenarnya, bisnis sepertinya diakui Tika bukan yang pertama. “Sesungguhnya bisnis seperti ini sudah banyak di Jepang, Korea, Amerika dan Belanda. Belakangan ini juga mulai banyak di Indonesia namun kami terbilang yang pertama menggunakan mesin khusus untuk menghasilkan bunga kering,” kata Tika.

Guna menjaga kualitas produk Magnolia, Tika berani menjamin produknya itu awet karena disimpan dengan sirkulasi baik. “Kalau disimpan di ruangan dengan sirkulasi yang baik, tidak lembab dan tidak terkena cahaya matahari langsung, maka akan tahan lama. Dulu saya pernah membuatkan teman saya saat masih belajar, dan sampai 15 tahun bunganya masih awet tidak ada yang berubah,” ungkapnya.

Selain dikeringkan, rangkaian bunga juga dipajang dalam bingkai berukuran 40×50 cm hingga 100×100, tergantung besar kecil hand bouquet. Tika mengakui pada awalnya tidak semua orang tertarik menggunakan bunganya saat momen pernikahan. Karena itu ia terus menjelaskan arti dan makna indahnya mengenang momen pernikahan lewat sebingkai frame yang berisi pernak-pernik pernikahan.

“Saya merasa sayang kalau bunga-bunga ini setelah dipakai hanya dibuang. Kenapa tidak disimpan dan jadi kenangan. Apalagi bunga adalah simbol keindahan pernikahan. Dengan melihat bunga ini tiap pasangan bisa kembali mengenang momen kemeriahan sebuah pernikahan,” jelasnya.

Foto: Instagram/magnolia_bouquet

Mengembangkan Usaha dengan Workshop

Berkat ketekunannya, usaha yang dimulai dari garasi rumahnya di Alam Sutera itu mulai memberikan hasil. Produk Magnolia semakin hari makin banyak yang menyukai. Menurutnya, setiap hari Magnolia menerima pesanan minimal 5 produk mulai dari harga Rp 100 ribu hingga Rp 6,5 juta.

Harga disesuaikan dengan besar bingkai yang diinginkan. Selain bunga pernikahan, Magnolia juga menerima pemesanan untuk pengeringan bunga yang didapat saat valentine atau bunga berkabung.

Saat ini Tika melatih lima orang pekerja agar bisa membuat rangkaian bunga yang indah. Selain itu, Tika juga menggelar workshop untuk mempopulerkan kreasi rangkaian bunga kering ini. “Sekarang banyak pengantin wanita yang mendesain gaun pernikahannya sendiri atau bahkan memesan buket bunganya sendiri. Jadi, kami terinspirasi untuk mengeringkan buket bunga mereka agar bisa mereka kenang sampai kapan pun,” katanya.

Kini popularitas produk bunga kering ini mulai naik, terutama di kalangan para sosialita ibukota. Konsumen melihat sisi romantis dari kenangan dalam bentuk bunga kering yang abadi. Hasilnya, produk yang dipasarkan melalui media sosial seperti Instagram, Facebook dan toko online Magnoliadriedflower.com pun semakin banyak peminatnya.

Akibatnya melonjaknya permintaan produk bunga keringnya membuat Tika memutuskan untuk membuka toko offline di kawasan Gading Serpong, Tangerang.

“Saat ini garasi saya sudah tidak mampu menampung produk Magnolia, rencananya bulan Oktober mendatang kami akan buka toko offline, sekaligus galeri. Sehingga orang bisa datang dan melihat langsung produk-produk kami di sana,” katanya.

Di satu sisi, Tika juga berharap kreativitasnya ini menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat untuk menyimpan kenangan terbaik mereka. “Kami memberikan pilihan baru dalam mendokumentasikan kenangan dengan mengeringkan atau mengawetkan bunga dan menyimpannya di dalam bingkai tiga dimensi,” tutupnya. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: